Endah N Rhesa - Serukan Hari
Audio With External Links Item Preview
Share or Embed This Item
- Publication date
- 2018-08-23
- Usage
- Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International




- Topics
- 37suara, EndahNRhesa, SerukanHari, LawanPenggusuran
- Item Size
- 51.7M
Melihat Konflik Agraria dari Banyak Mata
“Emang kalau proyek NYIA jadi, kenapa sih?”
Pertanyaan itu dilontarkan seorang kawan dengan enteng saat kami sedang
duduk di sebuah coffe shop berudara sejuk di daerah utara Yogyakarta.
Saya mengernyitkan dahi heran, bagaimana bisa seseorang yang berkuliah
di fakultas sospol di Yogyakarta bisa menanyakan hal yang begitu....
awam, setidaknya untuk saya.
Sedetik kemudian, keheranan saya berubah jadi pemakluman. Setelah
diingat-ingat, pada kenyataannya, isu proyek NYIA dan konflik agraria
secara umum adalah isu yang kelewat asing untuk kalangan anak muda
urban. Generasi yang ironisnya terlanjur dibebani stereotip sebagai
penggerak bangsa. Kami, anak-anak muda perkotaan ini sejatinya adalah
kelompok yang tumbuh dalam gelembung ekonomi kelas menengah berorientasi
kota dan segala kebanalannya. Jangankan soal NYIA, apa itu agraria saja
banyak dari kami yang mungkin tak tahu.
Padahal, konflik agraria adalah masalah yang sebetulnya kelewat penting
untuk hanya dilihat oleh satu kelompok, aktivis misalnya. Ruang hidup
dan tanah adalah akar dari hampir semua persoalan kemaslahatan
sehari-hari. Efek buruknya bisa menjalar jauh secara ruang dan waktu. Ia harusnya jadi bahasan sebanyak mungkin manusia yang mengaku masih menghirup kehidupan.
Di situlah lagu “Serukan Hari” dari Endah N Rhesa ini memosisikan
dirinya. Endah N Rhesa, yang bergerak dalam ranah populer punya potensi
untuk menyelipkan kesadaran dan ingatan soal tanah air yang sedang
dilukai ini ke telinga kawan-kawan sekalian. Ketika musisi-musisi dalam
lingkaran aktivisme kerap terjebak dalam audiens yang ‘sudah paham’,
maka Endah n Rhesa bisa tiba-tiba memunculkan tanda tanya, benih
kepedulian, dan kesadaran di tengah gemerlap panggung-panggung musik
populer. Seperti pil pahit yang dimasukkan ke dalam gumpalan pisang agar
tertelan oleh pasien bebal.
Lagu “Serukan Hari” menyarukan urgensi isu konflik agraria dalam
nada-nada ceria dan lirik yang manis sederhana. Saya tak menemukan
sesuatu yang spesial sampai menyadari Endah N Rhesa menggunakan sudut
pandang tak tunggal dalam liriknya. Dalam surel yang dikirimkan Endah
pada saya, ia mengaku kerap memainkan perspektif dalam membuat sebuah
lagu. Pada bait pertama /menyapa petani hadir setiap pagi/ menyiangi
semak yang membuatku geli/, berbeda posisi dengan bait /berbulan-bulan
lamanya kami bertani/ masa-masa sulit tetap kami hadapi/. Sekali
dinyanyikan oleh petani, lainnya seolah dinyanyikan oleh tanah, oleh
burung-burung, oleh semak-semak, atau entah siapa. Untuk saya, lagu ini
mengingatkan bahwa konflik agraria adalah obyek yang harus dilihat dari
beragam sudut pandang. Baik alasannya, juga akibatnya.
Akibat yang ditimbulkan oleh konflik agraria bisa begitu rumit dan
multidimensi. Untuk warga terdampak, penggusuran dan pelanggaran HAM
pada kasus NYIA misalnya, memaksa ratusan keluarga yang sebelumnya
berdikari di tanah sendiri harus jadi buruh atau berdagang, menghapus
kesahajaan hidup desa yang sederhana jadi impian perkotaan yang rumit,
juga mengeringkan tanah-tanah yang subur dan produkif. Bahkan dalam
level yang lebih jauh, saya dan Endah ternyata sama-sama memperhatikan
nasib anak-anak yang harus menyaksikan penindasan di masa kecil mereka.
Mereka ini, dalam hatinya sekarang telah tumbuh trauma, luka batin yang
menjelma bom waktu. Menggerogoti semangat baik dan bukan tak mungkin,
mereproduksi luka-luka lain sepanjang hidupnya. Untuk warga kota,
konflik agraria di tempat yang jauh mungkin akan sampai dalam wujud
naiknya harga makanan, macetnya jalanan kota, keringnya sumur-sumur, dan
entah apa lagi.
Tinggal lihat di mana posisimu sekarang untuk melihat akibat seperti apa
yang mungkin sampai kepadamu suatu saat nanti. Semoga lagu “Serukan
Hari” bisa menyuara di sebanyak mungkin panggung, sejauh mungkin dari
lingkaran aktivisme, dan sebanyak mungkin telinga awam yang asing dari
konflik agraria.
Sebagai masalah besar, harusnya isu ini juga dibicarakan–tanpa harus
bermulut besar— dengan mulut-mulut kecil, aksi-aksi kecil, dan
kebaikan-kebaikan kecil yang memunculkan nyali-nyali besar untuk terus
ingat dan melawan.
(Titah AW)
- Addeddate
- 2018-08-23 11:23:54
- Identifier
- EndahNRhesaSerukanHari
- Ocr
- ABBYY FineReader 11.0 (Extended OCR)
- Ppi
- 300
- Scanner
- Internet Archive HTML5 Uploader 1.6.3
- Year
- 2018
Open Library